#Share: Membangun, Bukan Merusak

#hutri, #berbangsa, #bernegara, #stagustinus, #cityofgod, #share, #docat,
23 August 2020
#Share: Membangun, Bukan Merusak

Sobat YOUCAT,

Ketika orang menghadapi goncangan akibat berbagai perubahan dan pergolakan, pertikaian, ataupun pertentangan, orang mudah menjadi gelisah dan marah. Para pemimpin dikutuki, sistem dipersalahkan. Orang lalu bermimpi tentang situasi ideal, bahkan juga nostalgia akan masa lalu.

Santo Agustinus dapat dikatakan hidup di tengah situasi seperti itu. Dia melihat, semua itu terjadi karena kedosaan dan dosa asal umat manusia. Dunia politik cenderung memaksa, pemerintahan menindas. Semuanya negatif, tidak beres. Akan tetapi, St. Agustinus tidak berhenti hanya sampai di situ. Kita memang manusia yang rapuh dan lemah, banyak salah dan punya banyak keterbatasan. Namun sebagai umat beriman, kita adalah peziarah menuju dunia Ilahi yang ia sebut sebagai Civitas Dei, Kota Allah. St. Agustinus tidak marah dan mengutuk kekurangan yang ada, dia tetap melihat ada peluang bagi kehidupan yang lebih baik, yang mencerminkan tata kehidupan yang berkenan kepada Allah, selaras dengan dunia yang dikehendakiNya.

Negara dan Orang Muda

Karena kita manusia ini mudah salah, maka perlu diatur. Di situlah letak negara: menata agar kehidupan bersama ini dapat berjalan dengan baik. Tidak ada orang yang hidup sendiri, kita semua hidup bersama. Maka tidak bisa kita hanya mau menang sendiri, merasa baik dan benar sendiri. Kita berjuang bagi kepentingan bersama, bagi kesejahteraan semua. Kebersamaan itu penting, apalagi sebagai umat Kristiani kita dipanggil dalam kebersamaan. Kita dipanggil untuk membangun hidup bersama yang lebih baik, terlebih kebersamaan sebagai bangsa, dalam hidup bernegara.

Tentu saja yang mau kita bangun adalah kehidupan yang lebih baik, masa depan yang lebih cerah. Di sini orang muda dibutuhkan. Orang muda dengan mimpi-mimpinya, dengan gairah dan pandangannya akan masa depan, dibutuhkan dalam membangun masa depan. Memang orang muda dikatakan sebagai pemilik masa depan. Tapi masa depan itu baru akan nyata kalau mulai dibangun sejak di masa kini. Maka orang muda pun pemilik masa kini. Paus Fransiskus mengistilahkannya: “Now of God”. Orang muda adalah pembangun kehidupan masa depan, yang dimulai dengan keterlibatan dan sumbangannya sejak di masa kini. Orang muda di sini adalah tangan Allah untuk membangun dunia yang selaras dengan kehendakNya.

Hidup Sebagai Peziarahan

Santo Agustinus menyebut hidup ini sebagai peziarahan. Kita semua berangkat dari dunia sementara, kini dan di sini, yang rapuh dan retak ini. Kita dipanggil untuk menatanya, memperbaiki dan membangunnya, agar dunia ini semakin dapat mencerminkan dunia Ilahi. Memang dunia Ilahi tersebut baru akan kita alami nanti dan kelak, saat kita mengalami hidup abadi bersamaNya di Surga. Akan tetapi bukan berarti bahwa dunia saat ini jahat sehingga tidak perlu kita bangun dan tata. Sebaliknya, walaupun rapuh dan ada yang rusak, kita perlu membangun dan merawatnya supaya menjadi semakin baik, semakin mencerminkan tata kehidupan yang dikehendaki Allah. Itulah maksud peziarahan. Sambil menuju pada dunia Ilahi, kita menata hidup di dunia ini sebagai jalan peziarahan kita. Kita berziarah bukan dengan meninggalkannya begitu saja, tidak peduli, tetapi dengan berjalan sambil membangun dan menatanya, menjadikannya semakin menjadi baik.

Terlebih di saat pandemi ini, kita diingatkan bahwa ada yang salah dan keliru dari cara hidup kita. Maka kehidupan ini perlu ditata ulang. Para ahli mengistilahkan: “the great reset”, penataan ulang cara dan sistem kehidupan ini secara besar-besaran. Penataan ulang itu digambarkan sebagai hidup yang lebih sederhana, peduli pada lingkungan, peduli pada sesama di sekitar kita, lebih bijak dalam pemakaian sarana dan fasilitas, termasuk bijak dalam bepergian maupun dalam menghabiskan waktu luang. Prioritas diletakkan bukan pada profit belaka, tetapi lebih pada kesehatan dan kesejahteraan lahir-batin. Kecepatan gerak hidup digambarkan akan lebih lambat, sehingga kita tidak harus seakan dikejar-kejar, tetapi mau menyediakan waktu bagi kebersamaan, entah dalam keluarga maupun dengan sahabat-sahabat dekat. Orang tidak mau sehat dan sejahtera sendiri, orang ingin sehat dan sejahtera bersama. Maka kita diajak lebih peduli dengan sesama, terlebih mereka yang kurang beruntung. Tidak heran kalau orang berharap dunia baru nanti akan menjadi lebih adil, damai, ramah dengan sesama maupun dengan lingkungan alam.

Kita Semua Dipanggil

Bukankah ini adalah saat untuk berubah, dan terlibat dalam gerak perubahan tersebut? Semua dipanggil untuk terlibat. Jangan sampai ada yang tidak dilibatkan, apalagi disingkirkan, ditinggalkan apalagi diabaikan. Kita tidak mau membangun dunia kehidupan yang membeda-bedakan ataupun memisah-misahkan. Itu bukan panggilan Kristiani, sebagaimana juga DOCAT menjelaskan itu. Inilah saat bagi umat Katolik, terlebih kaum muda, menunjukkan dirinya, hadir dan terlibat demi kehidupan bersama kita, demi masa depan yang lebih selaras dengan rencana kehendak Allah. Keterlibatan ini adalah keterlibatan demi terwujudnya Kerajaan Allah sehingga kasih Allah nyata seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus, kasihlah yang utama, sebab kita memang dipanggil karena dan untuk kasih.

Kita dipanggil untuk membangun, bukan merusak. Kita dipanggil untuk terlibat, bukan mengutuk. Dunia yang tidak sempurna ini kita hadapi dengan sikap positif, sebagai peluang keterlibatan dan sebagai kesempatan berbagi hidup. Gereja ada di dalam dan di tengah dunia. Dunia membutuhkan sumbangan dan keterlibatan Gereja. Kita ini, orang-orang mudanya, adalah Gereja. Kita perlu terlibat sesuai bakat, kemampuan dan segala talenta yang kita punyai. Jangan merasa kecil dan tak berarti. Semuanya penting dan berarti walau kita hanya bisa menyumbang sedikit saja. Small is beautiful, kata pepatah lama. Kecil itu indah, sebab kalau masing-masing menyumbangkan dari apa yang dianggap kecil dan sedikit itu, maka akan tersusun mosaik kehidupan yang beragam dan indah.

Santo Agustinus mengingatkan kita, kita semua adalah peziarah. Sebagai peziarah kita diundang menapaki jalan ziarah menuju pada dunia Ilahi dengan meninggalkan jejak-jejak perjalanan yang baik dan berguna bagi yang lain. Semakin banyak jejak baik yang kita sumbangkan semakin kita menghadirkan wajah Allah, supaya semakin banyak yang melihat sumbangan keterlibatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di Surga (lih. Mat 5:16).

~***~ Romo Krispurwana Cahyadi, SJ